Potensi Wisata di Kecamatan Berbah

Potensi Pariwisata di Kecamatan Berbah

Oleh: Tim KKN – PPM UGM Unit Kecamatan Berbah 2020

  1. Goa Sentono

Lokasi: Desa Jogotirto (7°48’47.1795″ LS, 110°28’17.1808″ BT)

Goa Sentono merupakan goa buatan yang dipahat di sebuah batu sehingga lebih tepat disebut dengan ceruk. Goa ini kemungkinan dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno yang mayoritas penganutnya beragama Hindu dan Buddha.  Goa ini memiliki tiga ceruk. Ceruk pertama relief yang sangat mirip dengan meru atau gunung dan sebuah yoni di lantainya. Ceruk kedua terdapat relief Dewa Siwa dan juga sebuah lingga yoni, sedangkan ceruk ketiga terdapat sebuah lingga yoni dan dindingnya berupa relief Dewa Agastya dan Dewi Durga.

Berbagai relief dewa terukir di dinding goa dan besar kemungkinannya bahwa pada goa ini digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa umat Hindu atau kuil. Hal tersebut juga terbukti dengan adanya lingga yoni sebagai lambang kesuburan. Relief Dewa Agastya merupakan perwujudan dari Dewa Siwa sebagai bentuk mahaguru sedangkan Dewi Durga merupakan dewi kebaikan yang mana merupakan istri dari Dewa Siwa.

Untuk mengunjungi Goa Sentono, pengunjung tidak dipungut biaya namun pengunjung bisa memberikan kebersihan dan perawatan dengan sukarela.

  1. Candi Abang

Lokasi: Desa Jogotirto (7°48’37.04″ LS, 110°28’7.2674″ BT)

Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 dan ke-10 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Meskipun demikian, candi ini diperkirakan mempunyai umur yang lebih muda dari candi-candi Hindu lainnya. Candi yang berbentuk seperti piramid ini dinamakan Candi Abang karena terbuat dari batubata yang berwarna merah (abang dalam bahasa Jawa).

Bentuk candi ini berupa bukit dan sekarang banyak ditumbuhi rerumputan sehingga dari jauh nampak mirip seperti gundukan tanah atau bukit kecil. Pada waktu pertama kali ditemukan, dalam candi ini terdapat arca dan alas yoni lambang dewa Siwa berbentuk segidelapan (tidak berbentuk segi empat, seperti biasanya) dengan sisi berukuran 15 cm.

Beberapa orang menganggap Candi Abang merupakan tempat penyimpanan harta karun pada zaman dahulu kala, oleh karena itu sering dirusak dan digali oleh orang tidak bertanggung jawab yang mencari harta peninggalan sejarah dan barang berharga. Hal demikian terjadi misalnya pada bulan November 2002.

Candi Abang sebenarnya hanyalah gundukan tanah di atas bukit. Apabila musim hujan tiba, bukit akan berwarna hijau, sedangkan di musim kemarau bukit akan gersang. Candi Abang akan terlihat berwarna abang (merah) ketika kondisinya benar-benar kemarau dan kering. Seperti pada umumnya, kebanyakan candi dibangun di atas bukit karena dianggap sebagai tempat yang suci (tempat tinggal para dewa).

  1. Goa Jepang

Lokasi: Desa Jogotirto (7°4847.1795 LS, 110°2817.1808 BT)

Goa Jepang merupakan bekas benteng pertahanan tantara jepang yang digunakan untuk pengintaian dan penembakan, serta untuk kepentingan logistik dan akomodasi, penyimpanan amunisi, dan bunker pasukan. Di dalam goa tersebut, terdapat lubang bentukan yang berfungsi untuk tempat meletakkan bom namun bom tersebut telah dikeluarkan dan lubangnya telah ditutup dengan semen.

Goa Jepang terdiri dari empat lubang masuk dengan mulut goa berbentuk persegi dengan ukuran 2 meter x 2 meter. Lorong pada masing-masing goa cukup dalam dengan kedalaman hingga lebih dari 10 meter dan ujungnya saling berhubungan satu sama lain. Goa Jepang memiliki pencahayaan yang minim karena cahaya hanya berasal dari lubang pintu goa sehingga disarankan membawa lampu penerangan semacam senter apabila ingin masuk ke dalam goa.

Aktivitas di sekitar Goa cenderung lebih banyak dilakukan oleh penduduk sekitar dibandingkan dengan kunjungan wisatawan. Kunjungan wisatawan cenderung masih sangat sedikit karena lebih sering digunakan untuk tempat pembelajaran dan penelitian daripada lokasi wisata.

  1. Lava Bantal

Lokasi: Desa Jogotirto (7°48’29.3136″ LS, 110°27’34.4623″ BT)

Lava Bantal menawarkan batuan yang diduga berasal dari lava pijar dari gunung api bawah laut yang mengering selama kurun waktu ratusan tahun lalu. Terhampar di Sungai Opak, batuan tersebut menjadi pemandangan unik yang mampu menyita perhatian para pelancong. Lava Bantal terbentuk dari lahar yang keluar dari gunung api bawah laut. Lahar panas yang mengalami kontak langsung dengan air dingin menyebabkan mineral mengalami pembekuan dan membentuk geometri yang seperti tumpukan bantal.

Konon keberadaan Lava Bantal berkontribusi besar terhadap terbentuknya Pulau Jawa. Fenomena alam seperti yang terjadi di Lava Bantal ini sangat jarang terjadi. Di Pulau Jawa fenomena sejenis hanya bisa ditemukan di Karangsambung (Kebumen), Ciletuh (Jawa Barat), dan di Berbah (DIY). Lava Bantal menjadi sebuah penanda masa 60 juta tahun yang lalu dan dimungkinkan sebagai peninggalan sejarah terbentuknya Pulau Jawa.

Dengan latar belakang sejarah geologi yang panjang, sejak 2 Oktober 2014 silam pemerintah telah menetapkan objek wisata ini sebagai geo heritage. Artinya, semua keunikan geologis yang ada di objek wisata tersebut tergolong sebagai objek yang dilindungi oleh pemerintah.

Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang unik, terutama sungai dengan batuan yang berbentuk bantal. Terdapat jembatan penyeberangan sungai dari satu sisi ke sisi lainnya dan menjadi spot yang bagus untuk berfoto.

  1. Masjid Sulthoni Wotgaleh

Lokasi: Desa Sendangtirto (7°48’12.2947″ LS, 110°25’39.3887″ BT)

Masjid Sulthoni Wotgaleh terletak di selatan Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Masjid ini didirikan pada masa Kerajaan Mataran Islam tahun 1600 M. selain berfungsi religious, masjid juga dikenal sebagai tempat pertahanan rakyat. Di sebelah masjid ini terdapat makam Pangeran Purubaya, putera dari Panembahan Senopati (Raja Mataram I). Pada semasa hidupnya, Pangeran Purubaya dikenal sebagai sosok sakti mandraguna. Pangeran Purubaya juga dikenal sebagai Joko Umbaran karena sering di terlantarkan orang tuanya semasa kecil. Selain makam Pangeran Purubaya, juga ada makam Ratu Giring atau Roro Lembayung, istri dari Pangeran Purubaya, Pangeran Purubaya II atau Banteng Mataram, Ki Wirosobo dan keluarga keraton. Terdapat kepercayaan masyarakat bahwa apapun yang terbang melintasi makam ini, akan jatuh di sekitar makam tersebut.

Masjid Sulthoni Wotgaleh ini merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Suasana sejuk dan menenangkan ini pun lantas membuat kami betah berlama-lama. Ada beberapa pohon beringin tua di sini, tak heran bila banyak pengunjung suka duduk-duduk di bawahnya.

  1. Agrowisata Jambu Dalhari

Lokasi: Desa Jogotirto (7°49’15.0587″ LS, 110°27’55.497″ BT)

Jambu dalhari merupakan salah satu tanaman holtikultura yang dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal di daerah yang memiliki ketinggian hingga 700 mdpl. Jambu dalhari menjadi buah unggulan Kecamatan Berbah dan menjadi ikon dari Kecamatan Berbah, yang dinamai berdasarkan petani yang pertama kali mengenalkannya. Desa Jogotirto menjadi sentra pengembangan buah jambu dalhari sehingga cukup banyak kebun jambu dalhari milik warga di Desa Jogotirto. Setiap pohon jambu dalhari mampu berbuah 100-200kg per musim ketika sudah berusia 3-4 tahun dan meningkat menjadi 500-600kg per musim ketika pohon sudah berusia 6 tahun.

Jambu dalhari panen pada bulan Juli-September. Kebun-kebun jambu milik warga dapat menjadi objek wisata alam di mana wisatawan dapat memetik buah tersebut langsung dari pohonnya. Wisatawan dapat berkunjunga pada masa panen jambu dalhari untuk mendapatkan buah lebih banyak.

 

  1. Candi Klodangan

Lokasi: Desa Sendangtirto (7°48’45.8601″ LS, 110°25’34.4126″ BT)

Candi Klodangan sulit diidentifikasi sebagai candi bercorak Buddha atau candi Hindu karena saat ini yang tersisa dari candi tersebut hanya pondasinya saja. Namun apabila ditinjau dari sisi arkeologi, candi ini merupakan bangunan candi dari pengaruh Hindu. Candi tersebut berada di kedalaman dua meter di bawah tanah di tengah sawah. Candi ini ditemukan pada tanggal 3 Juni 1998 oleh seorang petani yang menggali lahan persawahan untuk pembuatan batu bata. Situs ini berada di pertengahan areal persawahan dan tersembunyi dari jalan.

Bangunan Candi Klodangan terbuat dari batu putih (tuff) dan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,5 meter x 7,5 meter. Luas kompleks candri ini sekitar 8 meter x 9,5 meter. Secara keseluruhan, situs ini belum dapat ditemukan bentuknya karena sebagian besar batuan pembentuk struktur candi telah hilang atau hancur. Pada kompleks situs ini terdapat dua petak lubang galian, dengan satu galian besar yang menampakkan candi utama dan lubang galian lain yang menampakkan salah satu struktur pondasi atau bagian kaki candi.

Candi Klodangan berada pada kedalaman 1,2 meter di bawah permukaan tanah. Candi ini diperkirakan berasal dari abad 9-10 M, yang ditinggalkan masyarakat pendukunganya sebelum selesai dibangun, yang diperkirakan karena terdampak bencana erupsi Gunung Merapi. Tidak ditemukan adanya relief, arca, atau prasasti yang dapat digunakan sebagai petunjuk corak dan keperluan bangunan ini dibuat.

 

 

 

Recommended For You

About the Author: Aan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.