Pendidikan Tinggi Elitis

JAKARTA, KOMPAS.com – Pendidikan tinggi dirasakan semakin elitis bagi masyarakat dari kalangan tidak mampu. Biaya kuliah yang semakin tinggi jadi hambatan utama bagi orang miskin untuk bisa duduk di bangku kuliah dan meraih gelar sarjana.

Kenyataan itu terlihat dari kajian disparitas angka partisipasi kasar (APK) berdasarkan latar belakang ekonomi siswa. Dengan melihat data sensus penduduk nasional tahun 2003-2008, disparitas APK perguruan tinggi antara siswa yang berasal dari keluarga kaya dan miskin sangat tinggi.

Akses orang termiskin duduk di jenjang perguruan tinggi di tahun 2008 baru mencapai 4,19 persen. Adapun akses orang terkaya sudah mencapai 32,4 persen.

“Pada tahun 1980-1990an orang miskin yang kuliah jumlahnya bisa di atas 10 persen. Berarti kondisi sekarang semakin memprihatinkan bagi orang yang tidak punya duit alias miskin,” kata Pengamat Pendidikan Darmaningtyas, Minggu (12/9/2010).

Menurut Darmaningtyas, akses masuk ke bangku kuliah di kalangan siswa miskin semakin menurun drastis memasuki tahun 2000-an. Pasalnya, di masa itu perguruan tinggi negeri mulai membuka jalur-jalur masuk khusus, yang pada kenyataannya lebih mudah diakses siswa kaya.

Oleh karena itu, pendidikan tinggi sekarang, terutama PTN, mesti berbiaya murah. Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan alokasi anggaran di pendidikan tinggi.

Selain itu, penerimaan mahasiswa mesti terbuka dan serentak. Jangan sampai ada hambatan teknologi buat siswa dari daerah terpencil dengan diberlakukannya sistem masuk online.

Mensos Beri Perhatian Pada KUBE Masyarakat Lereng Merapi

Menteri Sosial RI Salim Shegaf Al Jufri mengunjungi Shelter Gondang I Jumat 29 Juli 2011. Kunjungan ini membawa angin segar dan harapan bagi masyarakat, terutama penghuni shelter. Mensos memberi perhatian kepada masyarakat dengan berbagai bantuan untuk kelompok usaha bersama.

Dalam kesempatan tersebut Mensos menyatakan bahwa antara masyarakat dan pemerintah adalah satu keluiarga, makanya kalau masyarakat belum bekerja maka pemerintah akan memperhatikan. Dan Kemensos tidak ingin masyarakat menderita dan itu perlu perhatian, sementara kalau mereka belum mandiri akan tetap diperhatikan. Selanjunjutnya kalau merka sudah mandiri  maka bantuan akan diberikan pada yang lain, karena apa yang dimiliki pemerintah milik rakyat juga. Menyinggung Kelompok usaha bersama akan selalu diperhatikan , agar masyarakat dapat melakukan kegiatan secara kelompok, dengan harapan akan mampu meningkatkan kesejahteraannya. Dengan adanya keberadaan KUB diharapkan kegiatan masyarakat/kelompok semakin maju yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dengan bertambahnya anggota dalam KUB merupakan bukti bahwa KUB tersebut berhasil  Bukti bahwa KUB tersebut berhasil bisa dilihat dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok dan aset yang dimiliki dan efektifnya kegiatan anggota/kelompok.

Sedang bantuan dana untuk KUB selama tahun 2011 ini mencapai 10 – 12 ribu kelompok usaha bersama, dengan jumlah jiwa mencapai  125 sampai 150 ribu dan besarnya bantuan perkelompok mencapai 20 juta rupiah.  Sementara untuk Jadup pemerintah tetap akan memperhatikan bagi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut mensos juga berkenan meninjau kegiatan masyarakat dengan berbagai kegiatan antara lain budidaya Jamur, pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman produktif yang cepat menghasilkan seperti tanaman sayuran, juga kegiatan warung kelontong dan warung makan. Mensos  dalam kesempatan tersebut juga mengarahkan  agar masyarakat dapat memiliki kegiatan yang cepat menghasilkan pendapatan untuk hidup sehari-hari.

Bupati Bertarawih Bersama Anak Panti Asuhan

Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo Minggu, 31 Juli 2011, mengawali Tarawih Perdana di Rumah Dinas Bupati Sleman bersama sekitar 150 anak Panti Asuhan Muhammadiyah Prambanan pimpinan H. Murwadi. Panti Asuhan ini menurut H Murwadi memiliki 177 anak asuh yang tiap bulan Ramadhan mengadakan safari tarawih keliling ke berbagai tempat di mulai pukul 02.30 WIB. Dan bagi Pejabat Sleman tarawih ini sekaligus mengawali kegiatan safari tarawih keliling bagi pejabat pemkab Sleman. Safari tarawih sendiri, direncanakan akan diadakan di 17 kecamatan.

Bupati menyampaikan Bulan Ramadhan kali ini istimewa mengingat awal bulan jatuh pada 1 Agustus di mana Rakyat Indonesia juga sedang menyongsong Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Bagi Pejabat, kegiatan Safari Tarawih di 17 Kecamatan merupakan agenda rutin untuk mendekatkan pejabat dengan masyarakat sekaligus menyerap aspirasi masyarakat setempat. Dalam kesempatan ini Bupati menyampaikan pesan kepada masyarakat agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik sehingga dapat meningkatkan iman dan taqwa sementara bagi pejabat Sleman maupun jajaran aparatnya selama bulan puasa dapat meningkatkan kinerjanya.

Tausiah disampaikan oleh Drs. H. Arif Jufandi yang banyak menyampaikan pesan pamitannya karena 31 Juli merupakan akhir masa dinasnya dan memasuki masa pensiun. Dikatakan awal Ramadhan ini merupakan akhir masa tugasnya sebagai PNS yang telah menjabat sebagai Kepala Departemen Agama yang saat ini diganti Kantor Kementerian Agama Sleman selama 8 tahun. Dikatakan oleh Arif Jufandi, Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk introspeksi diri, menilai diri sendiri sehinga bisa menjadi modal untuk memperbaiki diri, dan modal sabar dan tawakal akan dapat mengatasi berbagai kesulitan karena suatu kesulitan akan diakhiri dengan kemudahan.